Sejarah Perkembangan Batik Pekalongan

Meski belum ada catatan resmi kapan batik dikenal di Pekalongan, akan tetapi diperkirakan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Padahal motif batik Pekalongan dibuat pada tahun 1802. Seperti motif pohon kecil berupa pakaian. Namun perkembangan penting dianggap telah terjadi setelah Perang Besar 1825-1830 di Kerajaan Mataram, yang sering disebut sebagai Perang Diponegoro atau Perang Jawa. Dengan pecahnya perang ini, banyak keluarga kerajaan dan pengikutnya meninggalkan pemerintahan. Kemudian mereka berpencar ke timur dan barat. Belakangan di daerah ini, keluarga dan pengikut mengembangkan batik pria hinnga batik wanita.

Secara umum perkembangan batik Pekalongan mengalami fluktuasi. Pada tahun 1900, batik Pekalong mengalami perkembangan pesat karena meningkatnya permintaan dalam dan luar negeri. Akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 menyaksikan puncak peran kelompok wirausaha pribumi. Industri batik dan sandang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat terutama untuk memenuhi kebutuhan sandang elit baru, yang membawa perubahan besar pada masyarakat Indonesia, termasuk di bidang ekonomi, telah terjadi perubahan industri yang membuka pasar dan lapangan kerja yang besar. Selain itu, dengan dibangunnya jalur kereta Pantura, transportasi batik dari Pekalongan ke berbagai daerah menjadi lebih mudah.

Pada Perang Dunia I industri batik menurun dan mulai berkembang kembali pada tahun 1920-an. Pada tahun 1927 di kota Pekalongan terdapat 881 perusahaan batik dengan rincian 278 perusahaan batik di Buwaran Auto Parts, 224 di Tirto Auto Parts, 124 di Poncol Auto Parts dan 225 di City Auto Parts. Batik mengalami kemunduran lagi pada masa-masa buruk tahun 1930, sehingga orang yang dulunya kaya seperti pencetak harus bertahan hidup dengan menangkap ikan di ladang dan sungai. Banyak pengusaha yang berganti bisnis menjadi buka warung. Para pekerja dipecat dan para istri mencari nafkah dengan menjual segala sesuatu yang bisa dijual. Banyak orang meninggalkan desa mereka untuk mencari nafkah di tempat lain.

Banyak penduduk desa bepergian ke luar Jawa untuk mencari mata pencaharian baru seperti Teluk Betung, Padang, Medan, Kutaraja, dan tempat-tempat lain. Pada siang hari tidak ada asap dari dapur, mereka hanya makan sehari sekali pada sore hari. Turunnya batik Pekalongan karena kurangnya profesionalisme dalam berbisnis, penjualan produk batik yang absurd, ketidaktahuan akan hubungan antara penawaran dan permintaan, pembiayaan yang tidak ekonomis, produksi yang tidak terencana, persaingan yang ketat dan usaha batik yang terbagi menjadi ratusan usaha kecil.

Pada tahun 1939 didirikan dua koperasi batik di Pekalongan, yaitu koperasi Batik Setono dan koperasi batik Pekajangan yang didukung oleh para pengusaha batik seperti Mufti, Mastur, Ridwan, Zen Muhammad, Aman Jahri dan masih banyak tokoh lainnya. Tujuan pembuatan batik koperais ini adalah untuk menghadapi persaingan dengan pengusaha Cina. Pada awal pendudukan Jepang, pemerintah Jepang mengambil alih semua pabrik tekstil di Jawa, termasuk sebuah perusahaan Belanda di Tegal yang mempekerjakan 12.000 orang pribumi.

Produk tekstil ini digunakan untuk kepentingan militer Jepang dan sisanya untuk warga sipil. Kapas menjadi langka karena pemerintah Jepang menyita kapas yang tersedia dan menyerahkannya kepada sejumlah perusahaan kecil untuk membuat batik kualitas terbaik dengan desain yang sesuai dengan selera orang Jepang. Pada zaman Jepang, para pengusaha pribumi yang menjadi bagian dari gerakan digunakan untuk menggantikan para pengusaha Tionghoa yang mendapat jabatan terhormat pada masa penjajahan Belanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *